Jumat, 14 Juni 2013

Dilema Mantunu Tedong

Foto milik Nael to sondoloe


Mantunu tedong adalah kegiatan pemotongan/penyembelihan kerbau yang  umum dilakukan di Toraja pada saat mengadakan adat rambu solo’ atau upacara kematian dan kegiatan lainnya yang merupakan tradisi turun temurun dalam masyarakat toraja.
kegiatan yang berhubungan dengan adat orang Toraja ini  pada akhirnya menjadi ciri khas tersendiri yang  menarik masyarakat luar daerah Toraja sampai ke mancanegara untuk berkunjung ke Toraja agar dapat menyaksikan secara langsung berbagai macam rangkaian upacara adat yang didalamnya menyajikan atraksi pemotongan puluhan sampai ratusan kerbau,selain untuk melihat tempat-tempat wisata unik lainnya di Toraja.
Mantunu tedong mempunyai  kisah tersendiri  yang sudah menjadi rahasia umum.dahulu kala,
disaat masyarakat Toraja masih menganut kepercayaan Aluk Todolo (agama leluhur)atau kepercayaan tempo dulu yang politeisme,animisme,dll ,kegiatan mantunu tedong dilakukan Karena kerbau yang disembelih tersebut dipercayai akan  berperan sebagai  kendaraan jenazah dalam perjalanan menuju ke puya(akhirat).semakin banyak kerbau yang dipotong,semakain cepat jenazah itu mencapai puya.mantunu tedong pada saat itu tidak dilakukan oleh semua orang,tetapi hanya oleh mereka yang dianggap bangsawan atau orang yang memiliki status social tinggi dalam masyarakat.pemotongan kerbau pada saat itu dibatasi berdasarkan pada jenisnya yaitu  7 (tujuh) jenis kerbau yang dipercaya untuk
mengantar jenazah ke puya .kerbau itu berjenis balian, tekken langi', todi', bonga/ saleko, pudu', pangloli, dan sambao'. tambahan kerbau yang lain untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang  ‘berada’dan para pelayat yang datang.

Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan dari masa ke masa,Toraja kedatangan para misionaris yang memberitakan injil dan kepercayaan akan kuasa dan kepemilikan alam semesta oleh Allah yang esa.hal ini membuat sebagian besar orang Toraja meninggalkan aluk todolo dan menganut kepercayaan yang dibawa oleh para misionaris tersebut.meskipun sebagian masyarakat Toraja telah memeluk  agama Kristen,kegiatan mantunu tedong ini tetap dilakukan tetapi mempunyai makna dan tujuan yang berbeda dari sebelumnya.mantunu tedong tetap menjadi tradisi turun temurun dalam upacara pemakaman dsb sampai pada saat ini,tetapi pelaksanaan pemotongan kerbau di jaman ini dimaksudkan sebagai makanan/lauk utama yang disajikan bagi para tamu yang datang.sebagian juga untuk dibagi-bagikan buat  para pelayat karena dalam ritual pemakaman,pelayat yang datang terkadang amat sangat banyak,terlebih bila keluarga yang mengadakan ritual adalah orang berada,bangsawan,dan tokoh masyarakat.

Tradisi ini tiba-tiba memunculkan dilema dikalangan masyarakat Toraja,terutama oleh orang-orang yang merasa sebagai orang terpelajar maupun masyarakat biasa.hal ini juga menjadi pertentangan di sebagian masyarakat yang pro dan kontra dengan ritual ini karena berbagai sebab yang cukup rumit.tidak dapat dipungkiri bagi kita bahwa kegiatan mantunu tedong pada saat upacara rambu solo’ dapat menelan biaya yang tidak sedikit karena memerlukan banyak persiapan termasuk mantunu tedong dengan harga kerbau yang begitu mencekik leher dengan kisaran harga yang mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.menurut orang-orang tua,kegiatan ini wajib dipenuhi karena merupakan tradisi nenek moyang yang harus dijaga dan bila tidak,keluarga akan menanggung siri’ atau malu pada keluarga lainnya dan pada masyarakat yang datang melayat pada umumnya.ini merupakan dilema bagi keluarga yang hendak mengadakan ritual pemakaman,tidak terkecuali buat orang biasa karena harus mempunyai dana yang cukup agar ritual dapat dilaksanakan.

Saat ritual rambu solo’berlangsung,keluarga yang mengadakan acara terkadang mendapatkan sumbangan dari keluarga yang lain maupun pelayat berupa bahan konsumsi(gula,kopi,beras),uang,babi dan kerbau.untuk sumbangan yang berupa babi dan kerbau,istilah sumbangan sepertinya kurang tepat dan lebih cocok bila dikatakan sebagai pemberian ‘hutang’ karena suatu saat nanti,keluarga yang berduka ini harus mengembalikan sumbangan itu jika penyumbangnya akan/sedang mengadakan rambu solo’,atau pada saat diperlukan/diminta oleh penyumbang.pengembalian ini kembali mejadi dilema karena belum tentu orang yang wajib megembalikan sedang dalam  kondisi keuangan yang baik pada saat diminta untuk mengembalikan.bila ada 10 orang yang membawa kerbau,berarti kita juga harus menyiapkan 10 kerbau sebagai balasan.belum lagi dilema tentang harga kerbau yang setiap saat naik.nah,salah satu hal lagi yang menjadi dilema besar bila kerbau yang disumbangkan itu ditujukan untuk anak atau cucu jenasah.artinya, anak/cucu (bila masih kecil)yang belum mengerti adat bahkan mungkin belum sekolah itulah yang akan menanggung atau berkewajiban menggantinya kelak.betul-betul pening memikirkannya karena masih kecil/sekolah tapi sudah punya hutang dalam bentuk kerbau.

Yang juga menjadi dilema pada mantunu tedong adalah munculnya para rentenir yang aneh.meminjam uang untuk biaya sekolah atau bahan pangan,mereka tidak bisa membantu.uang mereka akan cepat keluar bila peminjaman atas dasar pembelian kerbau karena bunga pinjaman cukup tinggi dan peminjam dijamin dapat mengembalikannya sebisa dan secepat mungkin karena itu wajib.yang biasanya meminjam pada rentenir adalah orang yang akan membayar hutang pada penyumbang/pemberi hutang yang membawakan kerbau pada saat orang ini pernah menjadi tuan rumah pada saat mengadakan rambu solo’.bayangkan saja bila ada orang yang datang meminta pengembalian kerbau yang dia sumbangkan dulu pada saat anda dalam kondisi butuh kerbau?bagaimana pikiran anda bila saat itu keuangan anda sedang terjepit sementara anak-anak juga harus membayar uang sekolah dan butuh biaya untuk kebutuhan lainnya?pikiran pasti langsung teringat untuk meminjam pada rentenir ini.Bila anda belum  sanggup mengembalikan hutang,lagi-lagi istilah siri’akan melekat pada anda.banyak orang tua yang terpaksa mengorbankan pendidikan anaknya dan rela hidup jauh dibawah standar sederhana hanya untuk menghindari siri’ dengan memaksaan diri menyanggupi adat mantunu tedong dan mengembalikan hutang.

berusaha melaksanakan rambu solo’yang sempurna dan meriah dengan memotong/menerima sumbangan kerbau yang banyak dan menarik ribuan pelayat disertai  ritual-ritual lainnya akan membuat orang lain berdecak kagum dan menilai anda sebagai orang berada dan terpandang meskipun bukan keturunan bangsawan.upacara kematian yang seharusnya membuat kita terharu dan turut berdukacita malah menjadi ajang ‘pesta pora’.tak heran jika orang toraja sendiri menyebutnya’pesta’karena betul-betul diadakan secara besar-besaran sehingga bisa dikategorikan sebagai ‘pemborosan’tingkat tinggi.tapi buat masyarakat non Toraja,harap dipahami bahwa pesta yang dimaksud disini bukan untuk acara bahagia atau sukacita melainkan yang dimaksud dengan pesta disini hanyalah rangkaian ritualnya dan jumlah tetamu yang hadir.kegitan mantunu tedong terutama dalam jumlah yang besar mengakibatkan banyak dilema lagi selain menimbun hutang.salah satunya adalah kelestarian hidup kerbau yang dikhawatirkan mendekati kepunahan.banyak orang toraja yang sekarang lebih memilih menjadi konsumen daripada produsen.buat orang tua yang anak-anaknya merantau dan berpenghasilan cukup besar,membeli kerbau menjadi kebiasaan daripada memelihara.hal ini juga mengakibatkan semakin mahalnya harga kerbau karena bisa dibilang hampir langka ditemui kecuali di pasar hewan.

Bagaimana sikap dan peran orang Toraja terutama kaum terpelajar dan para pemuda pemudi dalam menghadapi dilema mantunu tedong terutama yang anti-mantunu tedong?bagaimana solusinya?
Hm…
kita tidak akan bisa dan pasti tidak rela bila harus menghilangkan adat dan tradisi ini begitu saja.apalagi adat mantunu tedong ini telah mendunia dan menarik perhatian orang luar.membuat Toraja dikenal diberbagai belahan dunia oleh para pelancong yang datang.ritual rambu solo’yang didalamnya ada mantunu tedong telah memberikan kita waktu dan kesempatan untuk bertemu dan berkumpul dengan keluarga yang jauh bahkan kadang-kadang kita baru saling mengenal dengan anggota keluarga yang lainnya saat mengadakan rambu’solo’ ini.ribuan orang mendapat ‘penghasilan’ yang cukup besar dari hasil penjualan kerbau.daging kerbau yang kita makan secukupnya juga mengandung gizi yang tinggi.mantunu tedong banyak masuk kategori pemborosan mungkin,tapi bisa kita maknai sebagai rasa ungkapan syukur atas berkat dan rejeki yang telah kita terima dari Tuhan.ini ditandai dengan meningkatnya perekonomian sebagian besar masyarakat Toraja tanpa menghilangkan/mengurangi maraknya ‘Pesta’ rambu solo’.bagaimana dengan biaya sekolah anak-anak? Ow,jangan khawatir karena orang Toraja masa kini sudah memandang pendidikan sebagai kewajiban utama sehingga semaksimal mungkin berusaha menyeimbangkan adat dan kebutuhan akan pendidikan yang tinggi.adat ini juga memicu semangat untuk bekerja sehingga mengurangi pengangguran dan imej ‘pemalas’.bagaimana dengan kelangsungan hidup para kerbau?tentu saja ini butuh perhatian dan peran dari dinas peternakan dan orang Toraja sendiri.sungguh,adat mantunu tedong sebenarnya sangat membanggakan.

Meski demikian,semua hal yang ‘membanggakan’ diatas belum tentu akan diterima langsung oleh siapa saja yang merasa orang Toraja.tetap akan ada  kontroversi mengenai mantunu tedong.hanya saja,kita bisa melakukan beberapa penyesuain untuk kalangan-kalangan yang pro dan kontra dengan mantunu tedong ini.karena adat mantunu tedong tidak/belum bisa dihilangkan(saya tidak rela),maka kegiatan mantunu tedong ini setidaknya dibuatkan aturan khusus oleh lembaga yang berwenang.misalkan pembatasan jumlah kerbau yang akan dipotong dalam acara rambu solo’sesuai dengan jumlah yang telah disepakati,dan bisa ditambahkan beberapa ekor sesuai dengan kemampuan masing-masing pembuat acara.ini akan mengurangi pemborosan untuk biaya kerbau dan penolakan yang halus dan sopan bila pembuat acara merasa tidak akan sanggup mengembalikan kerbau(biasanya orang akan malu bila menolak sumbangan kerbau dari pelayat).
foto:Dharma Yanto

‘Lestarikan Budaya Toraja’
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan meninggalkan komentar Anda atau inbox via email:aranaipi@gmail.com